Aku masih terduduk kaku di ruangan sempit dan pengap itu. Hingga akhirnya seorang polisi berseragam lengkap masuk dan mulai menanyaiku,
“Jadi, bagaimana rasanya membunuh, menyenangkan?”
“Aku bukan psikopat.”
“Lalu apa? Tak ada seorang pembunuh yang membunuh seseorang tanpa motif kecuali psikopat. Dan kau membunuh seorang pemulung tak berdaya. Pembunuh macam apa kau ini?”
“Aku tidak membununya.”
“Lalu siapa?”
“Cinta, cinta yang telah membunuhnya.”
Dulu, entah kenapa aku merasakan hidupku tak bermakna. Padahal aku memiliki hampir semua orang-orang yang tak miliki. Rumah mewah, Aset melimpah, bahkan mobil-mobil sport itu; yang hampir tak pernah bergerak dari parkirnya karna jarang kupakai. Kecuali itu, aku tak memiliki cinta.
“Lalu, kau mulai mencarinya?”
“Ya.”
“Cerita klasik, aku sudah sering mendengar cerita-cerita seperti ini di TV dan buku-buku. Hanya alurnya saja yang dibuat berbeda. Dan… biar kutebak ending ceritamu. Akhirnya kau menemukan cinta dan hidup bahagia. Selesai.”
“Jika akhirnya bahagia, aku tak mungkin berada diruangan pengap ini bersamamu.”
“Jadi…..?”
“Bisa kulanjutkan ceritaku?”
“Baik, silahkan….”
Aku percaya cintalah yang bisa memberi makna pada hidupku. Aku butuh cinta. Dan ya, Kau benar. aku mulai mencari cinta. Aku mencarinya dimana-mana. Di rumah, di taman, di restaurant, halte, rumah sakit, bahkan aku mencarinya ditempat kerjaku sendiri. Tapi tetap tak menemukannya. Hingga aku pergi ke sebuah mall dan menemukannya….
“Menemukan cinta?”
“Tentu saja! Kau tidak menyimak ceritaku dari tadi?”
“Maaf, aku hanya ingin memastikan. Silahkan lanjutkan ceritamu.”
Ya, akhirnya aku menemukan cinta. Ia terpajang manis di sebuah etalase toko itu. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke toko itu dan menemui si penjaga toko,
“Berapa harga cinta yang terpajang di etalase itu? Aku ingin membelinya.” Tanyaku bersemangat dengan napas memburu. Penjaga itu hanya tersenyum dan menggeleng,
“Kau takkan bisa membelinya.”
“Tentu saja aku bisa! Berapa harganya? Berapapun akan kubayar.”
Penjaga itu hanya tersenyum dan dan menggelengkan kepalanya lagi,
“Kau takkan bisa membelinya.”
Akhirnya aku mulai geram dan mengambil dompet dari sakuku mengeluarkan semua isinya hingga dompet yang tadinya gembung itu jadi menipis.
“Plokk.” Aku meletakkan setumpuk uang seratusan ribu di atas meja counternya.
“Kau pikir dengan uangmu itu kau bisa membeli cinta?”
“Masih kurang? Baik, tunggu sebentar.” Aku lalu meninggalkan toko itu dan bergegas menuju ATM terdekat. Pikirku mungkin harga cinta amatlah mahal, jadi kuputuskan untuk menguras seluruh uang di ATM ku. Setelah mendapatkan uangku. Aku kembali ke toko itu.
“Aku mengerti cinta sangatlah mahal, jika uang-uang ku ini juga belum cukup, kau bisa ambil seluruh asetku, rumah mewah, dan mobil-mobil sport itu.” Kataku pada penjaga toko setelah menyerahkan uang tadi. Kali ini penjaga toko itu tak tersenyum, ia malah tertawa kecil setelah mendengar perkataanku.
“Hahaha, ternyata kau belum mengerti juga, kawan. Cinta tak bisa dibeli dengan uang.”
“Apa maksudmu?”
“Cinta tak bisa dan takkan pernah bisa di beli oleh apapun. Bahkan jika untuk di tukar dengan mobil-mobil sportmu itu…”
“Tapi aku menginginkan cinta, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan cinta di etalase itu?”
“Kau akan mendapatkannya?”
“Kapan?”
“Suatu saat nanti.”
Aku mulai tambah geram,
“Aku ingin cinta sekarang! Bukan nanti. Aku membutuhkannya.”
Lagi-lagi penjaga itu tersenyum,
“Banyak orang yang berkata mereka membutuhkan cinta, padahal mereka tidak benar-benar membutuhkannya. Mereka hanya ingin memilikinya.”
“Jadi kau tetap tak mau menjual cintai itu kepadaku?”
“Cinta itu bukan untuk dijual.”
“Lalu apa gunanya kau pajang cinta di etalase itu?”
“Aku akan memberitahumu suatu saat.”
Akhirnya aku jengah dengan percakapan itu dan meninggalkan toko dengan hampa, tanpa cinta.
“Apa yang membuatmu ingin memiliki cinta? Padahal kau baru melihatnya sekali di etalase toko itu?”
“Entahlah, tapi saat pertama kali aku melihat cinta, ada perasaan yang menyenangkan. Tak bisa kuungkapkan. Seperti…. Seperti ekstasi atau morfin, walaupun kau tahu itu buruk bagimu, toh kau tetap menenggaknya, bukan? Seperti itulah cinta.”
“Lalu, apa yang kau lakukan setelah gagal membeli cinta?”
Aku memikirkan perkataan si penjaga toko, bahwa aku tak bisa membeli cinta dengan uang, hingga tiba-tiba aku melihat dari kejauhan seorang rampok yang sedang di kejar-kejar oleh massa berlari ke arahku. Ting! Aku mendapatkan ide!
“Ikut aku, aku akan membawamu ketempat yang aman.” Kataku, sambil ikut berlari dengan rampok itu.
“Kenapa aku harus mempercayaimu? Kita bahkan baru bertemu. Bagaimana ku tahu kau tidak menjebakku?”
“Terserah, tapi lihat orang-orang itu. Mereka membawa bensin dan obor. Siap membakarmu hidup-hidup jika tertangkap.” Perampok itu lalu berpikir sejenak,
“Baik, aku ikut denganmu.”
Akhirnya rampok itu lolos dari kejaran massa setelah aku membawanya berbelok kesebuah gang kecil di antara kedai-kedai itu.
“Terimakasih telah menolongku, sekarang apa maumu?”
“Bagaimana kau bisa tau?”
“Hanya orang gila yang mau menolong perampok seperti ku, atau mereka punya kepentingan sendiri. Dan aku yakin kau tidak gila, jadi apa maumu?”
“Baik, aku ingin kau mencurikan sesuatu untukku.”
“Apa itu?”
“Aku ingin kau mencuri cinta.”
“APAAA!? Kau menyuruh perampok itu mencuri cinta?! Ide gila macam apa itu?” Tanya polisi itu terkejut setelah mendengar ceritaku.
“Kupikir jika aku tak bisa membelinya, mungkin aku bisa mencurinya.”
“KAU SINTING! BENAR BENAR SINTING…..!”
“Berarti kau lebih sinting lagi karena mendengar cerita orang sinting.”
“Baik-baik… ayo lanjutkan ceritamu.”
Aku mulai menjelaskan panjang lebar apa yang harus rampok itu lakukan untuk mencuri cinta. Mulai dari letak toko itu, hingga dimana tempat aman kami bisa bertemu agar aku bisa mengambil cinta dari rampok itu. Si rampok hanya mengangguk-angguk mengerti.
“Dari penjelasanku tadi, ada yang kurang jelas?”
“Satu hal.”
“Apa?”
“Apa itu cinta? Mengapa kau begitu ingin aku mencurikannya untukmu?”
“Cinta itu….”
*****
Hari itu, aku melihat perampok itu beraksi dari kejauhan sambil menikmati kopi panasku di cafe tepat di depan toko itu. Rampok itu berhasil mencuri cinta tanpa kesulitan yang berarti. Lalu aku meninggalkan kafe, dan menuju tempat yang telah kami sepakati untuk mengambil cintaku dari rampok.
Sudah lama aku disitu, berdiri dan menanti si perampok. Tapi perampok itu tak kunjung datang. Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya aku sadar. Si rampok mencuri cinta untuk dirinya sendiri.
Lalu aku mencari rampok dan mendapatkannya saat sedang merampok.
“Hey kau! Berikan cintaku!”
“Maaf teman, cinta ini milikku, aku yang mencurinya.”
“Kembalikan, aku menyuruhmu mencuri cinta untukku, bukan untukmu.”
“Kau tidak mengerti, semenjak aku memiliki cinta aku jadi menemukan arti hidup.”
“Berikan cinta itu atau….”
“Atau apa…?”
“RAMPOOOK…..!!!” Teriakku sekencang-kencangnya meneriaki rampok itu. Orang-orang mulai melihat berkeliling mencari dimana rampok yang aku maksud, dan mengejarnya dengan membawa bensin dan obor. Rampok itu lari. Tapi ia tertangkap. Untungnya ketika massa itu siap membakar rampok aku sempat menghentikan mereka,
“JANGAAAN!!!, jangan bakar dia, ada sesuatu yang harus kuambil darinya.”
Orang-orang itu pun berhenti dan memberi jalan untukku menuju rampok yang sudah dikerumuni massa itu.
“Berikan cintaku!”
“Tidak ada padaku.”
“Apa maksudmu?”
“Aku buang disuatu tempat saat aku dikejar tadi, agar aku bisa mengambilnya jika lolos.”
“DIMANA?!” sergahku.
Rampok itu hanya diam. Aku menurunkan nada suaraku dan berkata,
“Tolong beri tahu aku dimana kau membuangnya, dan aku akan bicara pada orang-orang ini agar tidak membakarmu.”
Si rampok berpikir sejenak, akhirnya ia berkata,
“Dia ada di tong sampah di gang yang aku lewati tadi.”
“Baik, terimakasih.” Jawabku lalu meninggalkan rampok itu bersama massa yang siap membakarnya.
“Hey, kau bilang akan bicara pada orang-orang ini agar tidak membakarku?”
“Maaf, aku berbohong teman.” Senyumku sinis.
“KAU MENGKHIANATIKU!”
“Kau juga, sekarang kita impas.”
Rampok itu terhenyak.
“Bakar dia.” Perintahku pada orang-orang itu.
Dengan cepat massa itu menyiraminya dengan bensin dan langsung melemparkan obor-obor yang telah mereka pegang tadi ke rampok. Aku masih sempat mendengar teriakannya yang memilukan dari jauh. Rampok itu terbakar hidup-hidup.
Terbakar karena pengkhianatan.
Terbakar karena cinta.
*****
“Kejam sekali kau membohongi rampok itu.”
“Ia harus belajar bahwa dikhianati itu sakit.”
“Tapi itu tak setimpal, ia hanya mengkhianatimu dengan mengambil cintamu, sedangkan kau dengan mengambil nyawanya.”
“Cinta butuh pengorbanan.”
“Itu bukan pengorbanan, itu korban atas dendam cintamu.”
“Kau mau terus bicara atau aku melanjutkan ceritaku?”
“Baik…baik… ayo lanjutkan.”
Setelah tahu dimana perampok itu membuang cinta, aku langsung menuju ke tong sampah itu. Setelah menemukannya, aku mulai mengorek-ngorek sampah didalamnya tapi tak menemukan cinta. Lalu aku melihat pemulung melintas di dekatku. Aku bertanya, apakah ia ada memulung tong sampah ini. Ternyata bukan dia yang memulungnya tapi temannya, dan jika aku mau bertemu dengannya, aku bisa langsung menuju ke tempat pembuangan akhir disana. Lalu pergilah aku.
“Ya, aku yang memulung di tong sampah itu.” Jawab salah satu pemulung setelah aku Tanya siapa yang memulung tong sampah tadi.
“Apa yang bisa aku bantu.” Ia bertanya.
“Saat kau memulung tadi, apakah kau menemukan cinta? Cinta itu milikku, aku hanya ingin mengambilnya.”
“Terlalu banyak barang yang aku pungut tadi, aku tidak ingat.”
“Tolonglah, coba kau cari di keranjangmu itu, apa ada cinta disana? Jika kau menemukannya aku akan membayarmu.”
“Baiklah, aku akan mencarinya. Kembalilah besok, aku akan memberikannya padamu jika aku menemukannya.”
“Terimakasih….”
“Tunggu, tapi apa itu cinta? Mengapa kau begitu ingin mendapatkannya? Mengapa kau terlihat begitu putus asa?”
“Cinta itu….”
*****
Keesokan harinya aku kembali lagi ketempat pemulung tadi.
“Bagaimana? Apa kau menemukannya?”
“Sayang sekali anak muda, aku sudah mencarinya dimana-mana tapi tak menemukan cinta yang kau maksud.”
“Kau bohong.”
“Buat apa aku bohong?”
“Agar kau bisa memiliki cinta itu sendiri.”
“Aku tidak bohong!”
“Kau terlihat lebih bahagia dari kemarin. Aku tahu kau telah menemukan cinta.”
“Baik, aku mengaku. Aku berbohong.”
“Nah, sekarang berikan cinta itu kepadaku.”
“Anak muda, bolehkah aku memiliki cinta ini untukku?”
“Tidak! Cinta itu milikku, ambil saja uangku ini sebagai bayaran kau telah menemukan cintaku.”
“Tidak anak muda, cinta ini tak bisa kau tukar dengan uangmu.” Aku mulai tidak sabar dan mengeluarkan pisau dari balik bajuku.
“Dan kau membunuh pemulung itu?” Tanya polisi itu memotong ceritaku.
“Tidak seperti itu kejadiannya.”
Pemulung itu terkejut ketika aku mengancamnya dengan pisau.
“Berikan cinta itu atau kubunuh kau!” ancamku.
“Anak muda, kau tahu, seumur hidup aku menderita memunguti sampah-sampah menjijikkan itu, hingga aku menemukan cinta.”
“Aku tak peduli! Berikan cinta itu padaku!”
“Tidakkah kau kasihan padaku?”
Aku sudah tak sabar lagi. Lalu mulai ingin menikam pemulung itu.
“Baik…baik…” jawab pemulung itu cepat.
“Ini cintamu, ambillah…”
“Aku tak jadi menikamnya.”
“Terimakasih, ambillah ini sebagai bayaranmu.” Kataku sambil menyodorkan uang.
“Aku tak butuh uang mu anak muda.”
“Tapi aku sudah berjanji untuk membayarmu.”
“Berikan saja pisaumu.”
“Baiklah.”
Lalu ketika aku hendak pergi, pemulung itu memanggilku. Aku menoleh.
“Anak muda, tanpa cinta hidupku tak berarti. Aku tak mau menderita bersama sampah-sampah ini. Cinta, jika aku tak bisa memilikimu, apa gunanya aku tetap hidup? maka bunuhlah aku!” teriak pemulung itu seraya menancapkan pisau di hatinya.
Cinta telah membunuhnya.
*****
“Hati? Mengapa ia memilih menancapkan pisaunya di hati?”
“Entahlah, mungkin karena ia patah hati karena cintanya kuambil. Hatinya telah hancur. Buat apa tetap hidup tanpa hati?”
“Hmmm…. Jadi intinya kau tak membunuh pemulung itu.”
“Cinta itu membunuhnya.”
“Lalu dimana cinta itu sekarang?”
“Ada padaku.”
“DOR…!!!”
Tubuhku terlempar dari kursi dan menggelepar di lantai. Polisi itu menembakku.
“A… Apa yang kau lakukan?” tanyaku terbata sambil menahan sakit.
“Pelajaran cintamu telah berakhir, kawan.” Jawab polisi itu sambil tersenyum. Senyum itu…. Senyum yang familiar. Sepertinya aku pernah melihat senyum itu sebelumnya. Tapi dimana aku lupa. Otakku berpikir keras, dan….
“K…Kau! Kau si penjaga toko itu! Siapa kau sebenarnya? Dan apa maksudmu tadi?”
“Hahaha, kau memang jeli kawan.” Lalu ia melepaskan topeng polisinya dan menjelma menjadi si penjaga toko.
“Akulah si penjaga toko. Dan pelajaran cintamu malam ini telah selesai.”
“A…Aku tidak mengerti.”
“Kau sudah belajar banyak malam ini, dan saatnya kau pulang.”
“Pulang ke pangkuan Tuhan maksudmu?”
“Berikan cinta itu!”
“Tidak! Kau tahu aku tak akan memberikannya padamu.”
“Mengapa kau begitu ingin memiliki cinta?”
“Cinta itu…”
“Dan itulah sebabnya mengapa kau tetap hidup dan masih bisa berbincang-bincang denganku walau sudah kutembak.”
“Cinta memberiku hidup?”
“Ya, tapi aku harus mengambil cinta itu.”
“Tidak! Aku ingin memiliki cinta.”
“Kau akan memilikinya suatu saat.”
“Mengapa harus suat saat?”
“Karena cinta butuh proses, ia tak bisa didapat dengan cara instant. Ia tak bisa dicuri, apalagi dibeli.”
“Jadi, aku harus melewati proses?
“Tepat!”
“Bagaimana caranya?”
“Kau telah melewatinya dari ceritamu tadi.”
“Kalau begitu aku berhak mendapatkan cinta ini. Lalu, mengapa kau ingin mengambilnya dariku?”
“Karena cinta itu bukan milikmu.”
“Hah!?”
“Kau tahu kenapa aku memajang cinta di etalase toko itu.”
Aku menggeleng.
“Agar banyak orang-orang sepertimu yang bisa belajar apa itu cinta dan tak menyianyiakannya.”
“Cinta ini milikku!”
“Dia milikku, yang kau curi dari etalase.”
Tiba-tiba cinta berusaha keluar dari sakuku.
“Cinta, jangan tinggalkan aku. Tanpamu hidupku tak berarti. Tanpamu hidupku hampa. Apa gunanya aku tetap hidup?”
Ketika cinta keluar dari sakuku. Tiba-tiba tubuhku terasa lemas, penglihatanku gelap. Sebelum jantungku berhenti, aku sempat mendengar sayup-sayup cinta berkata padaku,
“Selamat tinggal pecinta, aku bukan cintamu. Aku tidaklah nyata. Carilah cintamu yang sebenarnya diluar sana.”
Lalu aku terbangun dari ranjangku. Dan kembali mencari cinta, bukan dengan mencuri, merampas, apalagi membelinya. Tapi mendapatkannya. Dan akhirnya aku mengerti. Penjaga toko itu benar,
Cinta butuh proses.