Minggu, 11 Juni 2017

Filsafat Ilmu Pengetahuan

Filsafat dalam bahasa inggris, yaitu: philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani: philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi, secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Orangnya disebut filosof yang dalam bahasa Arab disebut falasuf.

Harun Nasution, mengatakan bahwa kata filsafat berasal dari bahasa arab faalsafa dengan wazan (timbangan) fa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Dengan demikian, menurut Harun Nasution, kata benda dari falsafa seharusnya falsafah dan filsaf. Menurutnya, dalam bahasa Indonesia banyak terpakai kata filsafat, padahal bukan berasal dari kata Arab falsafah dan bukan dari kata Inggris philosophy. Harun Nasution mempertanyakan apakah kata fil berasal dari bahasa inggris dan safah diambil dari kata Arab, sehingga terjadilah gabungan keduanya, yang kemudian menimbulkan kata filsafat.

Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat­­. Timbulnya filsafat dalam diri manusia disebabkan oleh berbagai macam faktor. Pandangan pertama tentang hal ini adalah bahwa filsafat sudah menjadi kodrat manusia dan sudah melekat padanya. Dengen demikian, manusia disebut oleh Aristoteles sebagai “Ens Metaphysicum” (makhluk yang kodratnya berfilsafat). Jika pandangan itu berarti menganggap bahwa setiap orang adalah filsuf atau ahli filsafat, atau melakukan tindakan/kegiatan berfilsafat, terlalu berlebihan. Jika filsafat diartikan dalam makna yang luas, yaitu dalam arti sebagai usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu, mungkin hamper mendekati benar. Tetapi, jika filsafat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang utuh, sangat tidak mungkin bahwa manusia adalah makhluk filsafat.

Apakah filsafat sama dengan ilmu pengetahuan? Harus ditegaskan sejak awal bahwa keduanya tidak sama. Tetapi, yang terpenting adalah bahwa keduanya saling berhubungan. Baik filsafat dan pengetahuan bisa menjadi kegiatan manusia. Untuk memahami antara keduanya, kita bisa melihat dari proses dan hasilnya. Dilihat dari hasilnya, filsafat dan ilmu merupakan hasil dari proses dari kegiatan berpikir secara sadar. Sedangkan, dilihat dari prosesnya, keduanya menunjukan suatu kegiatan yang berusaha memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan manusia (guna mendapatkan pengetahuan dan kebenaran), dengan menggunakan metode-metode atau prosedur-prosedur tertentu secara sistematis dan kritis.

Tetapi, perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan juga tampak jelas ketika berhadapan untuk melihat masalah-masalah kenyataan yang bersifat praktis. Ilmu pengetahuan bersifat informasional dan analitis untuk bidang-bidang tertentu, tetapi filsafat tidak sekedar memberikan informasi, tetapi memberikan pandangan menyeluruh dimana informasi-informasi dari kehidupan hanya menjadi satu bagian saja yang harus dikaitkan dengan pengetahuan lainnya.

Jadi, bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah anak dari filsafat. Filsafat disebut sebagai “ibu dari ilmu pengetahuan” (mother of science). Dilihat dari sejarahnya, pengetahuan manusia dimulai dengan filsafat, ketika filsafat adalah kegiatan untuk menjelaskan gejala-gejala kehidupan yang belum terpecah-pecah menjadi berbagai (bidang) ilmu pengetahuan seperti matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, psikologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu komunikasi, ilmu bahasa, dan lain-lain.

Jadi, ilmu berkaitan dengan lapangan yang terbatas, sedangkan filsafat mencoba menghubungkan diri dengan berbagai pengalaman manusia untuk memperoleh suatu pandangan yang lebih utuh dan lengkap.

Filsafat ilmu mulai berebak diawal abad ke 20, namun diabad ke 19 dapat dikatakan Fancis Bacon sebagai peletak dasar filsafat ilmu dengan metode yang dimiliknya, metode induksi.

Filsafat ilmu mulai mengedepan tatkala ilmu pengetahuan dan teknologi(IPTEK) mengalami kemajuaan yang sangat pesat, IPTEK dipandang dapat mengancam eksistensi umat manusia, namun sejauh ini hanya merupakan kekhawatiran para Agamawan, ilmuan, juga kalangan filusuf sendiri.

Kekahawatiran tersebut pada dasarnya dikarenakan, munculnya suatu pengembangan IPTEK berjalan terlepas dari asumsi-asumsi dasar filosofnya, seperti:

Landasan ontologis
Epistemologis
Ontologis

Yang cenderung berjalan sendiri-sendiri, untuk memahami gerak perkembangan IPTEK maka dibutuhkan pemahaman filsafat ilmu, sebagai upaya meletakan kembali peran dan fungsi IPTEK sesuai dengan tujuan semula, yakni mendasarkan diri dan conceren terhadap kebahagian umat manusia, inilah merupakan pokok bahasan utama yang akan dikedepankan terlebih dahulu, disamping objek dan pengertian filsafat ilmu.

OBJEK MATERIAL DAN FORMAL FILSAFAT ILMU

a. OBJEK MATERIAL

Objek material atau pokok bahsaan filsafat ilmu, adalah ilmu pengetahuan, yakni suatu pengetahuan yangtelah disususn secara sistematis, dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, secara umum.

Ada suatu perbedaan yang jelas sekali antara, antara ilmu pengetahuan dengan pengetahuan saja, yakni pengetahuan bersifat umum, dan berupa pengalamaan sehari-hari, sedangkan ilmu pengetahuan, adalah pengetahuan yang bersifat khusus.

Ciri dari ilmu pengetahuan yakni, sistematis, menggunakan metode ilmiah tertentu, serta dapat diujikan kebenarannya, sebagaimana pada alinea pertama pada bahasan objek material dan formal filsafat ilmu.

Secara umum manusia terlibat dengan pengetatuan, secara normal dengan perangkat indrawinya, akan tetapi seseorang dikatakan sebagai ilmuan apabila terlibat dalam aktivitas ilimah, secara konsisten, serta merujuk kepada prasyarat-prasyarat yang seharusnya dipenuhi seorang ilmuan, yakni:

a.1. Prosedur ilmiah.
a.2. Metode ilmiah.
a.3. Adanya suatu gelar yang berdasar pendidikan formalnya, yang telah ditempuh.
a.4. Kejujuran ilmiah, yakni suatu kemauan yang besar, ketertarikan pada perkembangan ilmu pengetahuan terbaru, dalam rangka Profesionalitas keilmuannya.

b. OBJEK FORMAL

Esensi atau lazim disebut dengan hakikat merupakan objek , adapun objek formal filsafat ilmu, adalah ilmu pengetahuan, adanya permasalahan-permasalahan mendasar, pada ilmu pengetahuan menjadi pusat perhatian, yakni berlandaskan pula pada:

Ontologis, “Apa hakikat ilmu itu sesungguhnya…..?”.

Epistemologis, “Bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah…..?”.

Aksiologis, “Apa fungsi ilmu pengetahuan bagi manusia….?.

a. Ontologis
Bersikap objektive, pada suatu pengembangan ilmu, dimana objek pengembangan bersifat realitas, “….Apa…”.

b.Epistemologis
Epistemologis pengembangan ilmu artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan didasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran,dalam hal ini yang dimaksud adalah metode ilmiah.

Adapun metode ilmiah secara garis besar dapat dikelompokan menjadi dua, yakni siklus empirik untuk ilmu-ilmu kealaman. Dan metode linear ilmu-ilmu sosial-humaniora.

Yang dimaksud siklus empirik antara lain meliputi:

Observasi
Penerapan metode induksi
Melakukan eksperimentasi (Percobaan)
Verifikasi, suatu pengajuan ulang terhadap hipotesis yang diajukan, sehingga menghasilkan suatu teori.

Yang dimaksud metode linear adalah meliputi:

Persepsi, suatu daya indrawi didalam menghadapi realitas yang diamati.
Kemudian disusun suatu pengertian atau konsepsi.
Kemudian dilakukan suatu prediksi, atau perkiraan, atau ramalan tentang kemungkinan yang terjadi dimasa depan.

c. Aksiologis

Merupakan sikap etis yang harus dikembangkan oleh seorang ilmuan, terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, ideologi, kepercayaan, senantiasa dikaitkan dengan ilmuan yang sedang bekerja.

IMPLIKASI MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU

Tujuan Filsafat Ilmu adalah untuk mendalami unsur pokok ilmu, sehingga dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga kita dapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis. Mendorong calon ilmuwan dan ilmuwan untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan, dan menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi, utamanya untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non ilmiah.

Implikasi mempelajari filsafat ilmu adalah agar para ilmuwan punya landasan berpijak yang kuat di bidang masing-masing, dan saling berkomunikasi serta bekerjasama untuk memecahkan persoalan-persoalan manusia. Juga menyadarkan ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola piker “Ivory Tower”, yakni hanya berpikir murni di bidangnya tanpa mengaitkan dengan kenyataan yang ada di luar dirinya (masyarakat atau konteks sosial-kemasyarakatan).

MANFAAT FILSAFAT ILMU DALAM KEHIDUPAN

Ada yang memandang filsafat sebagai sumber segala kebenaran yang mengharapkan dari filsafat kebahagiaan hakiki dan jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaan.
Akan tetapi ada pula yang menganggap bahwa filsafat tidak lain dari pada “Obrolan Belaka”, ”Omong Kosong” yang sama sekali tak ada artinya bagi kehidupan sehari-hari. Yang meragukan banyak orang ialah banyaknya pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, pendapat-pendapat dan aliran-aliran yang sering banyak bertentangan satu sama lain. Inilah sebabnya pengantar filsafat yang melulu melalui “Historis” itu biasanya menimbulkan banyak salah paham dan mengecewakan. Dari uarian diatas jelaslah bahwa betapa besar kepentingan filasafat bagi perwujudan dan pembangunan hidup kita dan harus kita akui tentang terbatasnya kemampuanan budi manusia dalam usahanya untuk memecahkan soal-soal tentang “Ada”, tentang manusia dan dunia ,tentang hidup dan Tuhan.
Oleh karena itu sangatlah penting untuk mengetahui kegunaan dan tujuan filsafat, khususnya secara praktis.

Dengan berfilsafat kita lebih menjadi manusia lebih mendidik dan membangun diri sendiri. Sifat yang khusus bagi seorang filsuf ialah bahwa sesadar-sadarnya apa saja yang termasuk dalam kehidupan manusia, Tetapi dalam pada itu juga mengatasi dunia itu, Sanggup melepaskan diri, menjauhkan diri sebentar dari keramaian hidup dan kepentingan-kepentingan subyektif untuk menjadikan hidupnya sendiri itu obyek peyelidikannya. Dan justru kepentingan-kepentingan dan keinginan-keinginan subyektif itu maka ia mencapai keobyektifan dan kebebasan hati, Yang perlu buat pengetahuan dan penilaian yang obyektif dan benar tentang manusia dan dunia. Dan sifat ini, sifat mengatasi kesubyektifan belaka, Sifat melepaskan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan sendiri,
berusaha mempertahankan sikap yang obyektif mengenai intisari dan sifat-sifat objek-objek itu sendiri. Bila seseorang semakin pantas di sebut “berkepribadian”, semakin mendekati kesempurnaan kemanusiaan, Semakin memiliki “kebijaksanaan”.
Mengajar dan melatih kita memandang dengan luas dan menyembuhkan kita dari sifat Akuisme dan Aku sentrimisme. Ini berhubungan erat pula dengan “Spesialisasi” dalam ilmu pengetahuan yang membatasi lapangan penyelidikan orang sampai satu aspek tertentu dari pada keseluruhan itu. Hal inilah dalam ilmu pengetahuan memang perlu akan tetapi sering membawa kita kepada kepicikan dalam pandangan, Sehingga melupakan apa saja yang tidak termasuk lapangan penyelidikan itu sendiri, Sifat ini sangat merugikan perkembangan manusia sebagai keutuhan maka obatnya yang paling manjur ialah “pelajaran filsafat.”

Agar menjadi orang yang dapat berpikir sendiri.
Dengan latihan akal yang di berikan dalam filsafat kita harus menjadi orang yang sungguh-sungguh “berdiri sendiri” / mandiri terutama dalam lapangan kerohanian, mempunyai pendapat sendiri. Jika perlu dapat dipertahankan pula menyempurnakan ara kita berpikir, hingga dapat bersikap kritis, melainkan mencari kebenaran dalam apa yang dikatakan orang baik dalam buku-buku maupun dalam surat – surat kabar dan lain –lain.

PENUTUP

Filsafat ilmu sangat berguna dan sangat penting, kepentingannya tentu saja dinikmati perkembangan IPTEK yang ditandai dengan semakin menajamnya ilmu pengetahuan, dan dengan mempelajari filsafat ilmu, para ilmuan tidak mudah terperangkap kedalam sikap arogansi intelektual, sikap yang saling terbuka dikalangan ilmuwan akan memudahkan pengembangan kearah kepentingan sosial, masyarakat dari suatu negara dimana mereka menjalankan kehidupannnya. Filsafat dan mempelajari filsafat sangat penting untuk mengukur suatu kebenaran,dan penghayatan akan kebenaran dalam kehidupan manusia. Cuma manusia yang bisa berpikir dan bersama filsafat kemudian kita dihadapkan pada kedalaman akan arti realitas, Relitas kenyataan, realitas fungsi, Jika dikatakan bahwa filsafat bagian eksistensial kesadaran manusia maka filsafat selalu diuji untuk menjawab persoalan kehidupan manusia baik itu praktis kehidupan sehari-hari dan memberi penjelasan praktis dan tentu saja akan mengarah pada hakikat sesuatu.

Dalam pengkajian suatu pengetahuan akan dicari fungsi praktisnya, Pembahasan tentang pengetahuan filsafat sangat luas dan memiliki bagian utama pembahasan,misal tentang ontologi, epistemologi, Etika, Estetika, Filsafat juga masuk ke wilayah yang lebih khusus misal filsafat manusia, filsafat politik, filsfat agama, filsafat social, filsafat administrasi, filsafat teknologi. Segala yang melatarbelakangi tindakan manusia tentu ada system pemikiran, logika pemikiran, dan keyakinan akan pemikiran yang mendorong pada tindakan praktis, misal melakukan ritus agama, ikut aktivitas politik, memilih pekerjaan, berbisnis, memlih pasangan hidup. Dalam kehidupan praktis kita juga menemukan sesuatu yang negatif misal perang, pembunuhan manusia, perusakan alam. Tentu semua memliki system pemikiran. Tugas filsafat tentu memikirkan semua tindakan manusia, fenomena alam, kemudian mendialogkan dengan akal sehat, merefleksikan pikiran secara intensif dan ekstensif, Lalu apa ukuran dari kebenaran suatu tindakan? Lalu apakah ada kearifan dalam tindakan itu? Misal juga kenapa orang beragama dan mengapa orang bertindak atas nama doktrin agama? Apa fungsi Negara bagi kesadaran manusia? Apa dampak negative teknologi pada kehidupan praktis manusia? Kenapa indeks pembangunaan manusia suatu Negara status kualitas rendah? Kenapa biaya rumah sakit mahal? Kenapa biaya pendidikan mahal? Kenapa lembaga pedidikan seperti penjara? Semua pemkiran ilmu memiliki dasar kegelisahan atau rumusan masalah yang tentu saja berasal dari realitas, Pemikiran filsafat pun adalah analisa dan refleksi dari realitas hidup, karena filsafat adalah bagian hidup manusia, Sehingga bicara fungsi filsafat sebagai alat bantu memahami hidup praktis sungguh penting.

1 komentar:

Terima kasih telah berkunjung, silahkan berkomentar, berpendapat, dll. Tiap komentar akan saya balas, dan akan saya kunjungi balik. Bagi yang mau tukaran link atau saling follow juga boleh :)