Aku masih terduduk kaku di ruangan sempit dan pengap itu. Hingga akhirnya seorang polisi berseragam lengkap masuk dan mulai menanyaiku,
“Jadi, bagaimana rasanya membunuh, menyenangkan?”
“Aku bukan psikopat.”
“Lalu apa? Tak ada seorang pembunuh yang membunuh seseorang tanpa motif kecuali psikopat. Dan kau membunuh seorang pemulung tak berdaya. Pembunuh macam apa kau ini?”
“Aku tidak membununya.”
“Lalu siapa?”
“Cinta, cinta yang telah membunuhnya.”
Dulu, entah kenapa aku merasakan hidupku tak bermakna. Padahal aku memiliki hampir semua orang-orang yang tak miliki. Rumah mewah, Aset melimpah, bahkan mobil-mobil sport itu; yang hampir tak pernah bergerak dari parkirnya karna jarang kupakai. Kecuali itu, aku tak memiliki cinta.
“Lalu, kau mulai mencarinya?”
“Ya.”
“Cerita klasik, aku sudah sering mendengar cerita-cerita seperti ini di TV dan buku-buku. Hanya alurnya saja yang dibuat berbeda. Dan… biar kutebak ending ceritamu. Akhirnya kau menemukan cinta dan hidup bahagia. Selesai.”
“Jika akhirnya bahagia, aku tak mungkin berada diruangan pengap ini bersamamu.”
“Jadi…..?”
“Bisa kulanjutkan ceritaku?”
“Baik, silahkan….”
Aku percaya cintalah yang bisa memberi makna pada hidupku. Aku butuh cinta. Dan ya, Kau benar. aku mulai mencari cinta. Aku mencarinya dimana-mana. Di rumah, di taman, di restaurant, halte, rumah sakit, bahkan aku mencarinya ditempat kerjaku sendiri. Tapi tetap tak menemukannya. Hingga aku pergi ke sebuah mall dan menemukannya….
“Menemukan cinta?”
“Tentu saja! Kau tidak menyimak ceritaku dari tadi?”
“Maaf, aku hanya ingin memastikan. Silahkan lanjutkan ceritamu.”
Ya, akhirnya aku menemukan cinta. Ia terpajang manis di sebuah etalase toko itu. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke toko itu dan menemui si penjaga toko,
“Berapa harga cinta yang terpajang di etalase itu? Aku ingin membelinya.” Tanyaku bersemangat dengan napas memburu. Penjaga itu hanya tersenyum dan menggeleng,
“Kau takkan bisa membelinya.”
“Tentu saja aku bisa! Berapa harganya? Berapapun akan kubayar.”
Penjaga itu hanya tersenyum dan dan menggelengkan kepalanya lagi,
“Kau takkan bisa membelinya.”
Akhirnya aku mulai geram dan mengambil dompet dari sakuku mengeluarkan semua isinya hingga dompet yang tadinya gembung itu jadi menipis.
“Plokk.” Aku meletakkan setumpuk uang seratusan ribu di atas meja counternya.
“Kau pikir dengan uangmu itu kau bisa membeli cinta?”
“Masih kurang? Baik, tunggu sebentar.” Aku lalu meninggalkan toko itu dan bergegas menuju ATM terdekat. Pikirku mungkin harga cinta amatlah mahal, jadi kuputuskan untuk menguras seluruh uang di ATM ku. Setelah mendapatkan uangku. Aku kembali ke toko itu.
“Aku mengerti cinta sangatlah mahal, jika uang-uang ku ini juga belum cukup, kau bisa ambil seluruh asetku, rumah mewah, dan mobil-mobil sport itu.” Kataku pada penjaga toko setelah menyerahkan uang tadi. Kali ini penjaga toko itu tak tersenyum, ia malah tertawa kecil setelah mendengar perkataanku.
“Hahaha, ternyata kau belum mengerti juga, kawan. Cinta tak bisa dibeli dengan uang.”
“Apa maksudmu?”
“Cinta tak bisa dan takkan pernah bisa di beli oleh apapun. Bahkan jika untuk di tukar dengan mobil-mobil sportmu itu…”
“Tapi aku menginginkan cinta, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan cinta di etalase itu?”
“Kau akan mendapatkannya?”
“Kapan?”
“Suatu saat nanti.”
Aku mulai tambah geram,
“Aku ingin cinta sekarang! Bukan nanti. Aku membutuhkannya.”
Lagi-lagi penjaga itu tersenyum,
“Banyak orang yang berkata mereka membutuhkan cinta, padahal mereka tidak benar-benar membutuhkannya. Mereka hanya ingin memilikinya.”
“Jadi kau tetap tak mau menjual cintai itu kepadaku?”
“Cinta itu bukan untuk dijual.”
“Lalu apa gunanya kau pajang cinta di etalase itu?”
“Aku akan memberitahumu suatu saat.”
Akhirnya aku jengah dengan percakapan itu dan meninggalkan toko dengan hampa, tanpa cinta.
“Apa yang membuatmu ingin memiliki cinta? Padahal kau baru melihatnya sekali di etalase toko itu?”
“Entahlah, tapi saat pertama kali aku melihat cinta, ada perasaan yang menyenangkan. Tak bisa kuungkapkan. Seperti…. Seperti ekstasi atau morfin, walaupun kau tahu itu buruk bagimu, toh kau tetap menenggaknya, bukan? Seperti itulah cinta.”
“Lalu, apa yang kau lakukan setelah gagal membeli cinta?”
Aku memikirkan perkataan si penjaga toko, bahwa aku tak bisa membeli cinta dengan uang, hingga tiba-tiba aku melihat dari kejauhan seorang rampok yang sedang di kejar-kejar oleh massa berlari ke arahku. Ting! Aku mendapatkan ide!
“Ikut aku, aku akan membawamu ketempat yang aman.” Kataku, sambil ikut berlari dengan rampok itu.
“Kenapa aku harus mempercayaimu? Kita bahkan baru bertemu. Bagaimana ku tahu kau tidak menjebakku?”
“Terserah, tapi lihat orang-orang itu. Mereka membawa bensin dan obor. Siap membakarmu hidup-hidup jika tertangkap.” Perampok itu lalu berpikir sejenak,
“Baik, aku ikut denganmu.”
Akhirnya rampok itu lolos dari kejaran massa setelah aku membawanya berbelok kesebuah gang kecil di antara kedai-kedai itu.
“Terimakasih telah menolongku, sekarang apa maumu?”
“Bagaimana kau bisa tau?”
“Hanya orang gila yang mau menolong perampok seperti ku, atau mereka punya kepentingan sendiri. Dan aku yakin kau tidak gila, jadi apa maumu?”
“Baik, aku ingin kau mencurikan sesuatu untukku.”
“Apa itu?”
“Aku ingin kau mencuri cinta.”
“APAAA!? Kau menyuruh perampok itu mencuri cinta?! Ide gila macam apa itu?” Tanya polisi itu terkejut setelah mendengar ceritaku.
“Kupikir jika aku tak bisa membelinya, mungkin aku bisa mencurinya.”
“KAU SINTING! BENAR BENAR SINTING…..!”
“Berarti kau lebih sinting lagi karena mendengar cerita orang sinting.”
“Baik-baik… ayo lanjutkan ceritamu.”
Aku mulai menjelaskan panjang lebar apa yang harus rampok itu lakukan untuk mencuri cinta. Mulai dari letak toko itu, hingga dimana tempat aman kami bisa bertemu agar aku bisa mengambil cinta dari rampok itu. Si rampok hanya mengangguk-angguk mengerti.
“Dari penjelasanku tadi, ada yang kurang jelas?”
“Satu hal.”
“Apa?”
“Apa itu cinta? Mengapa kau begitu ingin aku mencurikannya untukmu?”
“Cinta itu….”
*****
Hari itu, aku melihat perampok itu beraksi dari kejauhan sambil menikmati kopi panasku di cafe tepat di depan toko itu. Rampok itu berhasil mencuri cinta tanpa kesulitan yang berarti. Lalu aku meninggalkan kafe, dan menuju tempat yang telah kami sepakati untuk mengambil cintaku dari rampok.
Sudah lama aku disitu, berdiri dan menanti si perampok. Tapi perampok itu tak kunjung datang. Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya aku sadar. Si rampok mencuri cinta untuk dirinya sendiri.
Lalu aku mencari rampok dan mendapatkannya saat sedang merampok.
“Hey kau! Berikan cintaku!”
“Maaf teman, cinta ini milikku, aku yang mencurinya.”
“Kembalikan, aku menyuruhmu mencuri cinta untukku, bukan untukmu.”
“Kau tidak mengerti, semenjak aku memiliki cinta aku jadi menemukan arti hidup.”
“Berikan cinta itu atau….”
“Atau apa…?”
“RAMPOOOK…..!!!” Teriakku sekencang-kencangnya meneriaki rampok itu. Orang-orang mulai melihat berkeliling mencari dimana rampok yang aku maksud, dan mengejarnya dengan membawa bensin dan obor. Rampok itu lari. Tapi ia tertangkap. Untungnya ketika massa itu siap membakar rampok aku sempat menghentikan mereka,
“JANGAAAN!!!, jangan bakar dia, ada sesuatu yang harus kuambil darinya.”
Orang-orang itu pun berhenti dan memberi jalan untukku menuju rampok yang sudah dikerumuni massa itu.
“Berikan cintaku!”
“Tidak ada padaku.”
“Apa maksudmu?”
“Aku buang disuatu tempat saat aku dikejar tadi, agar aku bisa mengambilnya jika lolos.”
“DIMANA?!” sergahku.
Rampok itu hanya diam. Aku menurunkan nada suaraku dan berkata,
“Tolong beri tahu aku dimana kau membuangnya, dan aku akan bicara pada orang-orang ini agar tidak membakarmu.”
Si rampok berpikir sejenak, akhirnya ia berkata,
“Dia ada di tong sampah di gang yang aku lewati tadi.”
“Baik, terimakasih.” Jawabku lalu meninggalkan rampok itu bersama massa yang siap membakarnya.
“Hey, kau bilang akan bicara pada orang-orang ini agar tidak membakarku?”
“Maaf, aku berbohong teman.” Senyumku sinis.
“KAU MENGKHIANATIKU!”
“Kau juga, sekarang kita impas.”
Rampok itu terhenyak.
“Bakar dia.” Perintahku pada orang-orang itu.
Dengan cepat massa itu menyiraminya dengan bensin dan langsung melemparkan obor-obor yang telah mereka pegang tadi ke rampok. Aku masih sempat mendengar teriakannya yang memilukan dari jauh. Rampok itu terbakar hidup-hidup.
Terbakar karena pengkhianatan.
Terbakar karena cinta.
*****
“Kejam sekali kau membohongi rampok itu.”
“Ia harus belajar bahwa dikhianati itu sakit.”
“Tapi itu tak setimpal, ia hanya mengkhianatimu dengan mengambil cintamu, sedangkan kau dengan mengambil nyawanya.”
“Cinta butuh pengorbanan.”
“Itu bukan pengorbanan, itu korban atas dendam cintamu.”
“Kau mau terus bicara atau aku melanjutkan ceritaku?”
“Baik…baik… ayo lanjutkan.”
Setelah tahu dimana perampok itu membuang cinta, aku langsung menuju ke tong sampah itu. Setelah menemukannya, aku mulai mengorek-ngorek sampah didalamnya tapi tak menemukan cinta. Lalu aku melihat pemulung melintas di dekatku. Aku bertanya, apakah ia ada memulung tong sampah ini. Ternyata bukan dia yang memulungnya tapi temannya, dan jika aku mau bertemu dengannya, aku bisa langsung menuju ke tempat pembuangan akhir disana. Lalu pergilah aku.
“Ya, aku yang memulung di tong sampah itu.” Jawab salah satu pemulung setelah aku Tanya siapa yang memulung tong sampah tadi.
“Apa yang bisa aku bantu.” Ia bertanya.
“Saat kau memulung tadi, apakah kau menemukan cinta? Cinta itu milikku, aku hanya ingin mengambilnya.”
“Terlalu banyak barang yang aku pungut tadi, aku tidak ingat.”
“Tolonglah, coba kau cari di keranjangmu itu, apa ada cinta disana? Jika kau menemukannya aku akan membayarmu.”
“Baiklah, aku akan mencarinya. Kembalilah besok, aku akan memberikannya padamu jika aku menemukannya.”
“Terimakasih….”
“Tunggu, tapi apa itu cinta? Mengapa kau begitu ingin mendapatkannya? Mengapa kau terlihat begitu putus asa?”
“Cinta itu….”
*****
Keesokan harinya aku kembali lagi ketempat pemulung tadi.
“Bagaimana? Apa kau menemukannya?”
“Sayang sekali anak muda, aku sudah mencarinya dimana-mana tapi tak menemukan cinta yang kau maksud.”
“Kau bohong.”
“Buat apa aku bohong?”
“Agar kau bisa memiliki cinta itu sendiri.”
“Aku tidak bohong!”
“Kau terlihat lebih bahagia dari kemarin. Aku tahu kau telah menemukan cinta.”
“Baik, aku mengaku. Aku berbohong.”
“Nah, sekarang berikan cinta itu kepadaku.”
“Anak muda, bolehkah aku memiliki cinta ini untukku?”
“Tidak! Cinta itu milikku, ambil saja uangku ini sebagai bayaran kau telah menemukan cintaku.”
“Tidak anak muda, cinta ini tak bisa kau tukar dengan uangmu.” Aku mulai tidak sabar dan mengeluarkan pisau dari balik bajuku.
“Dan kau membunuh pemulung itu?” Tanya polisi itu memotong ceritaku.
“Tidak seperti itu kejadiannya.”
Pemulung itu terkejut ketika aku mengancamnya dengan pisau.
“Berikan cinta itu atau kubunuh kau!” ancamku.
“Anak muda, kau tahu, seumur hidup aku menderita memunguti sampah-sampah menjijikkan itu, hingga aku menemukan cinta.”
“Aku tak peduli! Berikan cinta itu padaku!”
“Tidakkah kau kasihan padaku?”
Aku sudah tak sabar lagi. Lalu mulai ingin menikam pemulung itu.
“Baik…baik…” jawab pemulung itu cepat.
“Ini cintamu, ambillah…”
“Aku tak jadi menikamnya.”
“Terimakasih, ambillah ini sebagai bayaranmu.” Kataku sambil menyodorkan uang.
“Aku tak butuh uang mu anak muda.”
“Tapi aku sudah berjanji untuk membayarmu.”
“Berikan saja pisaumu.”
“Baiklah.”
Lalu ketika aku hendak pergi, pemulung itu memanggilku. Aku menoleh.
“Anak muda, tanpa cinta hidupku tak berarti. Aku tak mau menderita bersama sampah-sampah ini. Cinta, jika aku tak bisa memilikimu, apa gunanya aku tetap hidup? maka bunuhlah aku!” teriak pemulung itu seraya menancapkan pisau di hatinya.
Cinta telah membunuhnya.
*****
“Hati? Mengapa ia memilih menancapkan pisaunya di hati?”
“Entahlah, mungkin karena ia patah hati karena cintanya kuambil. Hatinya telah hancur. Buat apa tetap hidup tanpa hati?”
“Hmmm…. Jadi intinya kau tak membunuh pemulung itu.”
“Cinta itu membunuhnya.”
“Lalu dimana cinta itu sekarang?”
“Ada padaku.”
“DOR…!!!”
Tubuhku terlempar dari kursi dan menggelepar di lantai. Polisi itu menembakku.
“A… Apa yang kau lakukan?” tanyaku terbata sambil menahan sakit.
“Pelajaran cintamu telah berakhir, kawan.” Jawab polisi itu sambil tersenyum. Senyum itu…. Senyum yang familiar. Sepertinya aku pernah melihat senyum itu sebelumnya. Tapi dimana aku lupa. Otakku berpikir keras, dan….
“K…Kau! Kau si penjaga toko itu! Siapa kau sebenarnya? Dan apa maksudmu tadi?”
“Hahaha, kau memang jeli kawan.” Lalu ia melepaskan topeng polisinya dan menjelma menjadi si penjaga toko.
“Akulah si penjaga toko. Dan pelajaran cintamu malam ini telah selesai.”
“A…Aku tidak mengerti.”
“Kau sudah belajar banyak malam ini, dan saatnya kau pulang.”
“Pulang ke pangkuan Tuhan maksudmu?”
“Berikan cinta itu!”
“Tidak! Kau tahu aku tak akan memberikannya padamu.”
“Mengapa kau begitu ingin memiliki cinta?”
“Cinta itu…”
“Dan itulah sebabnya mengapa kau tetap hidup dan masih bisa berbincang-bincang denganku walau sudah kutembak.”
“Cinta memberiku hidup?”
“Ya, tapi aku harus mengambil cinta itu.”
“Tidak! Aku ingin memiliki cinta.”
“Kau akan memilikinya suatu saat.”
“Mengapa harus suat saat?”
“Karena cinta butuh proses, ia tak bisa didapat dengan cara instant. Ia tak bisa dicuri, apalagi dibeli.”
“Jadi, aku harus melewati proses?
“Tepat!”
“Bagaimana caranya?”
“Kau telah melewatinya dari ceritamu tadi.”
“Kalau begitu aku berhak mendapatkan cinta ini. Lalu, mengapa kau ingin mengambilnya dariku?”
“Karena cinta itu bukan milikmu.”
“Hah!?”
“Kau tahu kenapa aku memajang cinta di etalase toko itu.”
Aku menggeleng.
“Agar banyak orang-orang sepertimu yang bisa belajar apa itu cinta dan tak menyianyiakannya.”
“Cinta ini milikku!”
“Dia milikku, yang kau curi dari etalase.”
Tiba-tiba cinta berusaha keluar dari sakuku.
“Cinta, jangan tinggalkan aku. Tanpamu hidupku tak berarti. Tanpamu hidupku hampa. Apa gunanya aku tetap hidup?”
Ketika cinta keluar dari sakuku. Tiba-tiba tubuhku terasa lemas, penglihatanku gelap. Sebelum jantungku berhenti, aku sempat mendengar sayup-sayup cinta berkata padaku,
“Selamat tinggal pecinta, aku bukan cintamu. Aku tidaklah nyata. Carilah cintamu yang sebenarnya diluar sana.”
Lalu aku terbangun dari ranjangku. Dan kembali mencari cinta, bukan dengan mencuri, merampas, apalagi membelinya. Tapi mendapatkannya. Dan akhirnya aku mengerti. Penjaga toko itu benar,
Cinta butuh proses.
PsychoSocial
Social is Nothing, But Psycho
Minggu, 14 Agustus 2011
Minggu, 17 Juli 2011
Celah Sejarah dalam Krisis Kepemimpinan

Ada sebuah celah; sebuah kesempatan bersejarah dalam lilitan krisis multidimensi ini. Tampak mustahil memang, jika melihat bangsa kita ini, yang kepercayaan dirinya seakan sudah lumpuh. Seakan bangsa ini sudah mulai percaya bahwa krisis ini bagaikan titian tanpa ujung. Faktanya, bukan tidak ada seorang ekonom brilian di negeri ini yang mampu menyelesaikan krisis ekonomi ini. Faktanya, bukan tidak ada orang jenius yang dapat menemukan jalan keluar bagi persoalan bangsa ini. Faktanya adalah sebenarnya orang-orang ini bagaikan lidi yang berserakan di antara gugusan kepulauan di nusantara ini. Orang-orang ini (sayangnya) tak terintegrasi menjadi sapu di bawah sebuah kepemimpinan yang solid.
Kepemimpinan. Yang sebagaimana selalu terbukti berulang – ulang dalam sejarah selalu memberikan porsi terbesar bagi masalah yang dihadapi tiap bangsa, atau sebaliknya. Apa yang kita kenal dengan ideologi, agama, dan sistem sebenarnya hanyalah kumpulan benda-benda mati sampai mereka ditiupkan roh kehidupan dari sebuah kepemimpinan. Dan tak ada yang bisa menyelesaikan krisis ini kecuali jika kita dipimpin oleh sebuah kepemimpinan yang andal. Tapi juga perlu di ingat, kepemimpinan yang kuat dan baik tidak menjamin semua krisis ini selesai, tapi kepemimpinan yang kuat dan baik ini dapat memastikan bahwa semua solusi dan pemecahan yang kita rencanakan dapat berjalan dengan benar dan tidak menyimpang.
Tanpa kita sadari, peningkatan partisipasi politik bangsa ini melahirkan masalah baru bagi kepemimpinan nasional : meningkatnya standar harapan masyarakat terhadap pemimpin nasional. Efeknya, krisis kepemimpinan di negeri ini selalu berakhir dengan pergantian pemimpin nasional di luar jadwal konstitusi. Disebabkan oleh para pemimpin ini “dianggap” tidak memenuhi harapan masyarakat tersebut. Krisis kepemimpinan nasional saat ini adalah masalah nasional terbesar; melebihi dari musibah apapun yang pernah di terpa bangsa ini. Kepemimpinan adalah hal yang sangat vital. Ini merupakan suatu potongan sejarah yang disebut masa kekosongan kepemimpinan. Karena dalam masa ini, ada pemimpin yang tidak memimpin. Kepemimpinan adalah roh kehidupan yang dapat membuat ideologi, agama, nilai pikiran, dan sistem bekerja efektif mengorganisasi kehidupan bangsa kita ini. Dan ini adalah sebuah celah sejarah bagi para calon pemimpin di tengah krisis ini. Tapi siapakah pemimpin itu? Tentu saja seseorang yang mempunyai kapasitas kepemimpinan yang diperlukan sesuai jamannya untuk menyelesaikan masalah bangsa ini. Dan itu bisa siapa saja. Bahkan mungkin anda. Siapa yang tahu?
Sabtu, 16 Juli 2011
Anak-Anak yang Gelisah

Anak – anak muda adalah sebuah energi peradaban yang siap meledak di saat dibutuhkan. Ketika idealisme mereka terbentur alam realitas. Ketika janji kemakmuran berubah menjadi krisis ekonomi yang menyengsarakan. Ketika keadilan telah terbungkam oleh tirani kekuasaan, dan kebebasan terenggut oleh kediktaktoran. Ketika semua itu terjadi, maka bersiaplah. Ibu pertiwi pasti akan menepati janjinya. Janji untuk melahirkan anak-anak yang setia pada cita-cita luhurnya. Anak-anak yang membawa keberanian ditengah lautan ketakutan, yang mengibarkan panji perlawanan terhadap penindasan, yang memekikkan gaung pembelaan ditengah pengkhianatan, yang memberikan darah mereka dengan tulus sebagai mahar sebuah kebebasan dan keadilan, dan yang meninggalkan kenikmatan masa mudanya dengan penuh cinta untuk hidup dalam deru dan debu jalanan.
Keresahan itu muncul dari jiwa-jiwa yang gelisah. Tapi, kegelisahan yang seperti apakah itu? Yaitu kegelisahan yang membuat mereka berani mencabut semua kenyamanan hidup mereka. Kegelisahan yang membuat mereka bergerak maju di garis depan. Menjemput takdir. Menyambut panggilan sejarah. Kegelisahan bagaikan isyarat bagi anak – anak ini untuk bangun dari tidur panjang mereka dalam rahim sejarah. Seakan kegelisahan memberi mereka energi, semangat perlawanan, dan pembelaan yang ledakannya cukup besar untuk ditulis dalam prasasti sejarah.
Masih ragu dengan kekuatan energi peradaban ini?
Mari kita runut ulang ledakan energi peradaban ini dari generasi 1900-an. Anak-anak gelisah pada generasi ini dengan lantangnya memekikkan gaung perlawanan dan akhirnya memelopori kebangkitan nasional. Lalu, di generasi 28, kegelisahanlah yang membuat anak-anak muda ini memelopori persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan. Sejarah mencatatnya dengan Sumpah Pemuda. Di generasi 45, kegelisahanlah yang membuat anak-anak ini memberikan darah mereka dengan tulus demi mahar sebuah kemerdekaan. Lebih dekat lagi, ada generasi 66 yang berhasil mengakhiri tirani orde lama, dan generasi 98 yang mengakhiri kediktaktoran orde baru.
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua sudah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung dalam kepedihan bertahun-tahun
.....
(Taufiq Ismail, 1966)
.....
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian di Trisakti bahkan di seluruh negeri
Karena kalian berani mengukir alphabet pertama dari gelombang ini dengan darah dan arteri sendiri
Merah putih yang setengah tiang ini
Merunduk di bawah garang matahari
.....
(Taufiq Ismail, 1998)
Lihat, tanpa kita sadari kegelisahan inilah yang membuat bangsa kita ini bisa menghirup udara kebebasan. Tapi, tugas belum selesai. Kini kita tengah berada di persimpangan sejarah. Masa transisi yang tengah kita alami boleh jadi merupakan awal bencana besar yang merugikan akan menimpa bangsa kita di masa depan. Sebab, ada kegelisahan baru. Sebuah idealisme yang terpasung dalam realitas. Dan cita – cita reformasi yang telah di gaungkan para generasi dulu pun seakan semakin mengikis dan habis.
Tapi mungkin memang harus begini kenyatannya. Bahwa bangsa ini menghendaki kita melangkah lebih cepat menyelamatkan dirinya. Bahwa seharusnya kita sudah bersiap dengan letupan letupan kecil sebelum isyarat itu terdengar. Atau bahkan sebenarnya isyarat itu sudah dari dulu berbunyi, tapi teredam karena kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri? Sadar dan lihatlah, betapa bangsa ini sudah cukup lama gelisah. Ia butuh sebuah ledakan dari anak-anak yang terlalu pulas tidur dalam rahim sejarah ini. Ledakan energi peradaban.
Saatnya kita bergerak maju dan menuju garis depan. Mungkin inilah saatnya kita menjemput takdir kita. Memenuhi panggilan sejarah (yang mungkin) sudah lama terdengar tapi tak terhiraukan. Memang, perubahan ini sekilas terlihat seperti kabut tebal yang menghalangi cahaya matahari turun ke bumi. Tapi percayalah, keresahan dari anak – anak yang gelisah ini cukup kuat untuk meledakkan energi peradaban bangsa ini.
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan
Yang hanya berisikan khayalan
Langganan:
Entri (Atom)